الدعوة السلفية : موقع أبو سلمي الأثري

Thursday, April 07, 2005

Pembelaan dari tuduhan keji para ekstrimis (ghullath) terhadap Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dan Syaikh Ahmad asy-Syurkati

Seiring dengan banyaknya fitnah, terutama dari kalangan ghulat hadadiyin yang tidak bisa menjaga lisannya dari hak para ulama. Mereka dengan mudah mencela para ulama dan menjatuhkan hak mereka. Diantaranya yang mereka serang adalah Syaikh Sayyid Rasyid Ridha dan Syaikh Ahmad Syurkati rahimahumallahu. Bagaimanakah pandangan para ulama terhadap mereka???

Lebih lanjut silakan klik sini

11 Comments:

Anonymous Anonymous said...

bukankah kritikan lebih di dahulukan dari pujian ?

lalu bagaimana anda menjelaskan fakta-fakta "miring" yang di dapatkan oleh pihak yang mencela syaikh surkati

apakah anda telah mendengar jarh dari syaikh rabi terhadap surkati ?

sayang anda ternyata tidak sebijak yang saya harapkan

wallahul musta'an

4/13/2005 08:52:00 PM  
Blogger Abu Salma Al-Atsari said...

Jika anda punya fakta-2 miring thd Syaikh asy-Syurkati berikan kepada ana...
Dan jangan menjadi org yg mengklaim tanpa bukti...
Dimanakah Syaikh Rabi' menjarh Syaikh Ahmad asy-Syurkati?? Berikan bayan kepada ana...
Apakah hanya Ja'far dan mantan pembebeknya saja yg melakukannya...
haihata haihata... mengapa anda begitu gemar menerima berita qiila wa qoola namun mencampakkan ucapan ulama...
Ya akhy... kaidah 'al-Jarh muqoddam minat ta'dil' tdk bisa antum gunakan sembarangan...
Jika antum gunakan sembarangan maka akan hancur kaidah-2 lainnya.
Allah yahdikum...

4/28/2005 04:14:00 PM  
Anonymous Anonymous said...

1. siapa pembebek Ja'far?
2. dimana bisa ana baca tulisan bahwa mereka menjarh?

4/28/2005 11:47:00 PM  
Anonymous Anonymous said...

3.Antum banyak membantah HT dengan bantahan yang ana baca sangat bagus, Alhamdulillah. Ana usul, bagaimana kalau antum juga membantah tuduhan kadzdzab kepada ustadz Tamimi surabaya yang dimuat di http://www.salafy.or.id

4/29/2005 12:23:00 AM  
Blogger Abu Salma Al-Atsari said...

Akhy fillah...
Yang kami tahu yg menjarh Syaikh Ahmad asy-Syurkati dan Sayyid Rasyid Ridha adl Ja'far Umar Thalib dan mantan pembebeknya, walaupun mereka menyatakan bahwa mrk baro' thd Ja'far namun manhaj Ja'far masih melekat di sanubari mereka, sebagaimana Abdul Ghufur ar-Ruwaibidhoh yg menulis dan menuduh Ust. Abdurrahman sebagai kadzdzab, padahal dia sendiri yg kadzdzab...
Ana pernah menyampaikan kpd Ust. Abdurrahman dan asatidzah lainnya utk mencounter tuduhan si ruwaibidhoh haddadi al-Malanji ini, namun mereka mengatakan bahwa membantah mereka adl sia-2 dan tdk bermanfaat melainkan hanya makin menyebabkan mereka bersemangat membuat fitnah lebih marak, karena hanya inilah kemampuan si Abdul Ghofur ini, dan dia ini pengangguran tulen yg tdk punya kerjaan.
Pernah ana tantang utk menemui masyaikh secara privat namun dia memang pengecut dan banci, keberaniannya hanya di balik kata-2 dan layar monitor...
la`allahu an yahdiyana wa iyyakum wa iyyahu...

4/30/2005 10:33:00 AM  
Blogger Abu Salma Al-Atsari said...

Menghadapi ghulath semacam abdul ghofur al-haddadi ini adalah sebagaimana perkataan yg disandarkan kepada Imam Syafi'i di dalam Diwannya :
Qooluw sakatta wa qod khushimta
Qultu lahum innal jawaaba syarril miftaah
wash shumtu 'an ahmaaqin wa jaahilin syarafun
arti :
"Mereka berkata : kenapa kamu koq diam padahal dirimu dicela
Aku menjawab : Sesungguhnya menjawabnya akan membuka pintu keburukan
Dan diamku thd org dungu dan jahil (seperti abdul ghofur) ini adl lebih mulia"

4/30/2005 10:40:00 AM  
Anonymous Anonymous said...

yang ana lihat, tuduhan dalam risalah tersebut mengikutsertakan bukti yang kuat dan sementara saat ini ana masih melihat bahwa sebagian tuduhan itu adalah layak. masalah mereka bara' dengan ja'far tentu saja tidak ada hubungannya dengan jahr risalah abdul ghafur, karena risalah tersebut menyertakan bukti tersendiri yang tidak ada hubungannya dengan ja'far.

bukankah sebaiknya antum atau ustadz membuat bantahan yang baik untuk menjelaskan bagaimana keadaan sekarang, karena menurut ana mereka adalah orang yang masih mencintai kebenaran, mereka kan hanya menuduh berdasarkan bukti kenyataan yang memang terjadi, jika tidak ada kejadian tersebut maka tentu saja tidak ada tuduhan itu. bukti-bukti tuduhan mereka adalah kejadian nyata yang tentu saja menimbulkan tanda tanya dan butuh penjelasan, misalnya mengapa ustadz yazid berada dalam satu tim editing terjemahan buku dengan HNW, juga kejadian di malang yang ia saksikan sendiri ada ustadz yang satu majelis dengan hizbi haroki partai, juga penjelasan lain terkait perkembangan dakwah dengan dukungan ihya atturots kuwait atau yayasan lain yang tidak jelas manhajnya. dan kenyataan-kenyataan lain yang diungkap dalam tulisan tersebut. bukankah itu semua butuh penjelasan, jika tidak ada penjelasan tentang kejadian-kejadian tersebut maka tentu saja akan dinilai secara dhohir sebagaimana kejadian itu terlihat. Oleh karena itu menurut ana malah sikap ustadz hanya mendiamkan justru semakin menimbulkan fitnah dan perpecahan. apakah hanya karena tidak mau/malu mengungkapkan kesalahannya yang terjadi di masa lalu? atau masih demikian namun diam-diam saja sedangkan kalau dijelaskan malah ketahuan? atau sejak dulu hingga sekarang tidak pernah seperti yang dituduhkan? ana kan bingung bagaimana. kalau memang sekarang tidak lagi seperti yang dituduhkan kan lebih baik dijelaskan.

Namun, terkait penjelasan ustadz abdul mu'thi yang berasal dari nasehat syaikh yahya al hajuri yaman, yang dimuat di www.salafy.or.id, seorang ikhwan bertanya seusai ta'lim beliau kira-kira begini: bagaimana jika mereka sekarang sudah rujuk?
dijawab oleh beliau secara makna kira-kira begini: kami menilai dari apa yang kami ketahui saja selama ini, adapun kondisinya sekarang yang kami tidak ketahui maka kami katakan tidak tahu, jika mereka sudah rujuk maka kami akan lihat dari dhohirnya apakah memang sudah rujuk, jika hanya ucapan saja tetapi perbuatannya masih saja bermajelis dengan hizbi maka mereka masih demikian. adapun jika memang sudah rujuk (secara diam-diam/tidak mengabarkan kepada kami), ya sudah kesalahan yang lalu ya sudah berlalu, kami tidak pernah bermaksud mengungkit-ungkit.
demikian kira-kira dari beliau.
menurut ana, mereka menunggu kabar dan penjelasan.

kalau ana sendiri tergantung penjelasan dari kedua pihak. contohnya, ketika ana baca tentang tuduhan sururiy namun kemudian ana sudah mengetahui penjelasannya di majalah assunnah (atau alfurqon -ana lupa) bahwa para ustadz tidaklah sururiy sebagaimana tuduhan tersebut dan sudah membeberkan juga pengimpangan tokoh sururiy maka itu adalah klarifikasi yang sangat baik dan menjelaskan keadaan sekarang. maka selanjutnya jika masih ada tuduhan sururiy menurut ana itu adalah kedzoliman.
demikian juga ana dan ikhwah lainnya mungkin butuh penjelasan atas bukti-bukti kejadian menyimpang lainnya dalam risalah tersebut.

5/02/2005 01:08:00 PM  
Blogger Abu Salma Al-Atsari said...

Assalamu'alaikum
Ana katakan tuduhan di dalam risalah Abdul Ghofur adalah risalah yang dibangun di atas tuduhan semata yang berangkat dari kebodohan, buruk sangka dan alias sombong.
Abdul Ghofur ini tidak memiliki bayan melainkan zhohir yang tampak sekilas padahal ahlus sunnah menilai dengan cara tabayun sebelum justifikasi. Tidak mengambil sebagian dan mengacuhkan sebagian.
Ahlus sunnah adalah menasehati sesama saudaranya dan tidak menghancurkan hak dan kehormatannya sebagaimana apa yang dimuntahkan si Abdul Ghofur al-haddadi al-mahnuts ini.
Mengenai masalah terjemahan, yang perlu antum ketahui adalah seharusnya, Abdul Ghofur dan bala pasukannya bertabayun, apakah hal ini adalah suatu kesengajaan ataukah tidak?? Apakah Ust. yazid, Ust. Mubarak dll tahu bahwa tim editor tafsir Ibnu Katsir ini di dalamnya ada HNW...
Ini yang seharusnya dilakukan!!! Dan ana terangkan bahwa mereka tdk mengetahui hal ini, karena Bapak Muhammad Harhara selaku pemilik Pustaka Imam Syafi'i tdk memberikan konfirmasi siapa saja tim editor di dalam majalah itu.
Ketika para asatidzah tahu, maka mereka menghubungi Bp. Harhara dan menasehati beliau, dan akhirnya beliaupun mau menerima, dengan bukti pada jilid-2 berikutnya tdk lagi melibatkan HNW. Bahkan, Pust Imam Syafi'i mengeluarkan buku-2 manhaj yg mengkritik pujaan HNW semacam al-Qordhowi dan lainnya.
Ana faham, bahwa neo Haddadi ini akan senantiasa memasang kekernya utk mengeker para asatidzah al-kiram, apapun yg mrk lakukan pasti akan dicari-2 kesalahannya.
Adapun Ust. Abdullah Hadromi di Malang yg hadir di majlis PKS, maka sekali lagi tdk ada keinginan dari antum atao Abdul Ghofur ato lainnya yang menghendaki supaya saudaranya kembali ke al-haq, tdk ada nasehat kepada beliau namun langusng menerapkan metode tanfiir dan ta'yin hizbi...
Padahal para asatidzah menasehati beliau, hingga syaikh Masyhur sendiri menasehati beliau dan akhirnya beliau mau rujuk dan kembali ke al-Haq, dengan bukti setelah dauroh masyaikh di Lawang, ust. Abdulloh mengumumkan kesalahannya di majlisnya yang dihadiri tdk kurang dari 200 peserta majlisnya.
Apa lagi yang hendak dicari???

Qod tadh'anu al-'Airu fi Aknaanin Qoo'ilatin
wa qod basiithu 'ala armaahina al-Batholu
artinya :
Kendaraan Unta telah berangkat dengan menbawa panah-2
dan terkadang para jawara binasa di atas tombak-2 kami...

walillahil hamdi

5/14/2005 12:42:00 PM  
Anonymous Anonymous said...

Alhamdulillah,
sekarang telah jelas poin-poin yang ana ingin penjelasannya. dan ini semua cukup sebagai bantahan terhadap tuduhan abdul ghaffar dalam perkara itu. Sebentar, nanti ana baca lagi risalahnya dan rasanya ada yg mau ana tanya lagi.

yang selanjutnya ingin ana tanyakan juga, bagaimana sikap antum dan para ustadz terhadap yayasan hizbi ihya' atturots kuwait? inilah yang setau ana menjadi biang fitnah perpecahan dakwah salafy di seluruh dunia yang memisahkan ahlussunnah yang satu dengan yang lain. termasuk juga assatidz, dulunya mereka ada yang bersama, tetapi semenjak ustadz yang satunya bermuamalah dengan yayasan hizbi ini maka jadi terpecahlah dakwah salafiyyah.

Wassalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
(Abu Husain)

5/20/2005 09:46:00 PM  
Blogger Abu Salma Al-Atsari said...

Wa'alaykumus Salam waRohamtuLlahi waBarokatuH

Ba'da tahmid wa sholawat...
Semenjak Abdurrohman Abdul Kholiq -wafaqohullahu wa iyyana- dikritik oleh Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkholi -hafizhohullahu- dan Syaikhul Albani menyatakan bahwa al-Haq bersama DR. Rabi' dan Abdurrohman Abdul Kholiq dikatakan oleh beliau : "Aqidatuhu salafiyyah wa manhajuhu ikhwaniyyah", maka para asatidzah salafiyah bero' terhadap beliau atas kesalahan-2 dan penyimpangan-2 beliau, falhamdulillah.

Adapun bekerja sama dengan Ihya'ut Turots, maka pembahsannya adalah butuh tafshil, diantara penolak dan penerima. Sebenarnya ada beberapa hal yang tidak pernah sampai kepada kita, yakni, Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr memperbolehkan bekerja sama dengan jum'iyah Ihya'ut Turots al-Kuwaitiyah (ana baca di elsaha.fares tulisan DR. Abdullah al-Farsi), demikian pula DR. Bakr Abu Zaed, Syaikh Sholih Fauzan al-Fauzan, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Sholih Alu Syaikh dan Syaikh Sholih bin Ghonim as-Sadlan.
Bahkan syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr menyatakan di dalam risalah rifqon dan al-Hatstsu b beliau yg menyatakan bahwa syaikh Bin Baz dan syaikh Utsaimin menghadiri undangan ihya'ut Turots setelah syaikh Rabi' bin Hadi dan selainnya mentahdzir jum'iyah ini. Namun syaikh Fauzi al-Bahraini mengklarifikasi di dalam 'Madza yuriidu ahlus sunnah bi ahlis sunnah' bahwa syaikh Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin tdk mengetahui hakikat jum'iyah ini sehingga mereka mau hadir.
Namun klaim ini dibantah oleh DR. Abdullah al-Farsi dalam 'Daf'u Zhulumat Fauzi al-Jadiidah' yang menyatakan bahwa klaim Syaikh Fauzi ini tdk benar. Karena syaikh Ibnu Baz dan syaikh Ibnu Utsaimin adalah 'alim mutamakkin yang tdk mungkin akan bertindak sebelum mereka mengetahui hakikatnya...
Tidak dipungkiri, bahwa al-Haq adalah Jum'iyah at-Turots al-Kuwaitiyah adalah mu'assasah hizbiyah dan selayaknya salafiyun baro' darinya...
Namun yang jadi masalah adl hal ini adl perkara ijtihadiyah, dimana bolehkan seorang menerima bantuan tanpa syarat dan selainnya ataukah tdk boleh. Fadhilatus Syaikh Rabi' bin Hadi dan selain beliau ditambah mayoritas ulama Yaman mengharamkan secara mutlak. Namun tdk demikian dengan ulama lainnya tatkala dihadapkan mashlahat dan madharat da'wah, terutama fitnah iftiraq...
Seharusnya jalan yang ditempuh adalah sebagaimana ketika DR. Abdullah al-Farsi bertanya kepada Syaikh Sholih Fauzan al-Fauzan ttg at-Turots ini dan Syaikh Fauzan menjawab utk berlemah lembut dg mereka... demikian pula syaikh Shalih as-Sadlan tatkala syaikh al-Farsi menceritakan tatkala beliau satu pesawat dengan syaikh as-Sadlan, al-farsi bertanya ttg at-Turots, syaikh as-Sadlan menjawab supaya menyibukkan diri dengan menuntut ilmu dan menjauhkan diri dari perkara ini. (Silakan email ana, insya Allah akan ana berikan URL ucapan al-Farsi ini)
Perlu diketahui bahwa DR. al-Farsi ini pada awal mulanya mentahdzir at-Turots, tmsk pula Dr. Abdullah as-Sabt dan mereka baro' thd Abdurrohman Abdul Kholiq, namun al-Farsi sendiri menyatakan bahwa bersikap keras thd mereka tdk membawa faidah dan menjauhkan mashlahat dakwah. Demikian pula antum bisa lihat Syaikh Sholahudin Maqbul Ahmad dari India yang bukunya ditaqdim oleh syaikh Rabi' bin Hadi, yg berjudul Zawabi' fi wajhis Sunnah (yg telah diterjemahan oleh Pustaka Azzam, kalo tdk salah) juga bekerja sama dengan Ihya'ut Turots, namun belum pernah datang satupun tahdzir dari Syaikh Rabi' thd al-Farsi dan Sholahudin Maqbul Ahmad ini.
Ana bertanya thd al-Ustadz Abu Auf Abdurrahman At-Tamimi ttg Ihya'ut Turots, dan beliau menjawab bahwa mereka yayasan hizbiyah, dan ana tanya lagi bolehkan bekerjasama dengan mereka? al-Ustadz menjawab, 'ahsan ditinggalkan'...
Namun apakah kita mentabdi' saudara-2 kita salafiyin yg bekerjasama dg at-Turots yg tdk bisa kita menutup mata dari kemaslahatan dan andil mereka thd ummat terutama kaum fuqoro'???
Maka sikap kami adalah kami baro' terhadap Ihya'ut Turots al-Kuwaitiyah namun kami bersikap lemah lembut thd saudara-2 kami salafiyin yg terkait dengan jaringan mereka, semoga mereka mau menerima nasehat kita dan menginggalkan jum'iyah ini...
Sesungguhnya berlemah lembut terhadap sesama ahlus sunnah labih kita dahulukan, melihat mashlahat dakwah di bumi Indonesia yang sarat dengan bid'ah, khurofat, takhayul, shufiyah, hizbiyah dan selainnya...
Sesunguhnya menyibukkan diri dengan berdakwah mengajak mereka mentauhidkan Allah dan mengenalkan sunnah dan berpegang dengan dien ini lebih mulia daripada menyibukkan diri dengan masalah-2 demikian ini...
"Jika antum tdk mentabdi' yang kami tabdi' maka antum adalah mubtadi'" ato "antum tamyi"... Inilah yg sering keluar dari mereka... sesungguhnya ini adalah kebatilan Haddadiyah... nas'alullaha salamah wal 'aafiyah...
Tidaklah penting mereka akan mengatakan ana mumayi' ataupun hizbiy ataupn pencinta Dinar Kuwait ataupun tuduhan-2 lainnya...
Sebagaimana syaikh Ghonam, seorang ahli sejarah yg menuliskan sejarah Syaikhul Islam MUhammad bin Abdul Wahhab berkata :
in kaana tab'ian Ahmad mutawahiban
fa anani muqirru bi annani wahabi
"Jika seandai mengikuti Ahmad dikatakan Wahabi
maka ana mengikrarikan diri sebagai wahabi"
sebagaimana Imam Syafi'i pula melontarkan hal ini tatkala dituduh sebagai Rafidhah
dan juga sebagaimana Imam Bukhori dituduh dengan tuduhan kholqul Qur'an, beliau berkata sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nashir ad-Dimasyqi : "Hadza buhtanun azhim"

Pertanyaannya adalah, apakah masyaikh Yordania mereka tdk mengetahui bahwa ada diantara jama'ah yg datang di dauroh mereka, ada org-2 yg masih bekerja sama dengan at-Turots Kuwait?!! Sungguh bodoh jika mengatakan bahwa kami menyembunyikan fakta dari mereka... Jika mereka menyatakan demikian, maka dimanakah tanggung jawab tuduhan mereka ketika ditantang untuk menyampaikan bayan kepada mereka?!!
Tdk ada yg mereka lakukan melainkan hanya membawa berita kepada Fadhilatus Syaikh Syaikh Yahya al-hajuri, dan mengundang Syaikh Fauzi -lalu batal- kmd mengundang syaikh Abdulloh al-Mar'i namun juga tak kunjung datang...
Sesungguhnya menyibukkan diri dengan tholabul ilmi dan membantah hizbiyah haqiqiyah adl lebih bermanfaat...
Allahu a'lam bish showab...

5/22/2005 05:12:00 PM  
Anonymous Anonymous said...

walhamdulillah. Insya Allah nanti ana hubungi antum via email.
Barakallahufiik

5/26/2005 07:32:00 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home